Kamis, 29 Desember 2016

Keluaran 20:8-11 Sabat dalam Dekalog


1.    Tafsiran
a.       Sabbat sebagai keharusan dalam hidup orang Israel (ay. 8)
Tanah merupakan milik Allah yang dianugrahkan kepada orang Israel, terkhusus tanah Kanaan (tanah perjanjian). Hasil dari tanah juga bukanlah atas usaha manusia saja, tetapi tergantung kepada kemurahan Allah. Dengan demikian ditetapkanlah satu hari sebagai hari peristirahatan dari pekerjaan sebagai pengakuan atas kemurahan Allah yaitu sabbat. Dalam ayat 8 kata “ingatlah” terjemahan dari kata “zakor” dalam bahasa Ibrani yang merupakan sebuah kata dasar infinitif absolut ekuivalen dengan kata kerja perintah yang tegas. Kata ini menunjukkan konteks perjanjian yang wajib dilaksanakan dalam pemahaman untuk mematuhinya tanpa penyelewengan dan melanjutkannya sebagai prioritas dalam hidup. Secara etimologi kata sabbat menunjukkan adanya sosialisasi kultus dan penanggalan. Sabbat merupakan istilah yang menunjukkan hari penghentian, karena alasan agama dari rutinitas normal sehari-hari. Sabbat merupakan milik Tuhan sebagai hari untuk tujuan suci dan bebas dari tenaga kerja untuk mencari rezeki.[1]
Kata “ingatlah” menunjukkan bahwa sabbat sebagai keharusan. Orang Israel merupakan orang yang dibawa Allah keluar dari tanah Mesir. Selama di Mesir mereka hidup sebagai budak yang bekerja tanpa berhenti (Kel. 1:11). Namun saat Allah membawa mereka keluar dari Mesir, maka Allah menganugrahkan kebebasan bagi mereka dan mereka boleh berhenti. Hal ini berimplikasi untuk merayakan sabbat sebagai kenyataan yang ada sekarang.[2] Selain kata ingatlah, kata “kuduskanlah” juga menunjukkan sabbat sebagai keharusan. Kata “kudus” merupakan terjemahan dari kata qadosy dalam bahasa Ibrani yang berarti terpisah atau khusus. Kudus biasanya diperuntukkan bagi Allah yang dalam zat-Nya, Dia terpisah dari segala makhluk atau ciptaan. Sehingga “kudus” menjadi inti realita ilahi yang di dalamnya terdapat sifat ilahi seperti kasih, kemurahan, kebenaran, kesucian dan kuasa ilahi dari Allah. Oleh karena itu, hari sabbat menjadi hari yang dikhususkan untuk Tuhan sebagai objek perhentian-Nya dan sarana pelaksanaan kehendak-Nya, sehingga mencerminkan sifat-sifat ilahi.[3] Pelaksanaan akan sabbat menunjukkan adanya hari khusus untuk Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan adalah tuhan atas waktu, Dialah yang menguasai waktu.[4] Orang Israel yang dibebaskan oleh Tuhan dengan kuasa-Nya, secara otomatis menjadi umat kepunyaan Allah yang harus menaati kehendak Allah. Sabbat sebagai hari peringatan akan besarnya anugrah Tuhan dan adanya satu hari khusus untuk Tuhan. Berhenti dari pekerjaan di hari yang dikhususkan Tuhan ini, menuntut umat Israel harus mengkhususkan hari itu mengucap syukur kepada Tuhan.
b.      Larangan bekerja pada hari sabbat (ay. 9-10)
Bekerja selama enam hari dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari adalah waktu yang cukup, karena kehidupan tidak hanya terdiri dari pekerjaan. Dalam perjalanan kehidupan orang Israel menuju tanah Kanaan di padang gurun, Tuhan memberikan manna kepada mereka sebagai makanan. Pada hari keenam Tuhan menggandakan manna tersebut, agar pada hari ketujuh mereka berhenti secara penuh (Kel. 16:22-24).[5] Mereka bisa melaksanakan semua tugas mereka selama 6 hari, tetapi pada hari ke-7 mereka harus menghormati Tuhan dengan beristirahat. Hari itu merupakan hadiah dari Tuhan dan orang-orang mengambil bagian dalam kesukaan-Nya.[6]
Perhentian pada hari ketujuh ini juga berlaku kepada orang asing yang ada di tempat kediaman orang Israel, bahkan ternaknya pun tidak boleh bekerja pada hari itu. Tuhan sendiri menguduskan dan memberkati hari ini. Ini menunjukkan bahwa Dia juga ikut beristirahat pada hari itu. Setelah Dia mencipta selama 6 hari, ia berhenti pada hari ketujuh. Sabbat mengikat struktur alam semesta dari upaya lain untuk membujuk orang Israel menjaga hukum keempat. Oleh karena itu orang Israel pun harus menghormatinya dan melakukannya dalam kehidupan mereka. Sabbath dalam Ulangan diperingati sebagai keluarnya mereka dari Mesir dan pembebasan Israel. Sabbath sebagai hari ketergantungan mereka dengan Tuhan tetapi juga kemerdekaan mereka dari semua orang dan kekuasaan.[7] Sejarahwan menunjukkan bahwa hari ketujuh merupakan hari besar yang berasal dari Israel.[8] Meskipun menurut teori orang Babel dan Asyur, orang Keni merayakan hari demikian sebelum zaman Musa.[9] Teori ini merupakan salah satu teori yang memberitahukan tentang asal mulanya hari sabat. Secara etimologi, “Keni” berarti pandai logam. Dengan demikian timbul dugaan bahwa pantangan memasang api pada hari sabat (Kel. 35:3) berasal dari kalangan Keni yang kemudian mewariskannya kepada umat Israel dan berkembanglah larangan-larangan yang berkenaan dengan hari sabat.[10]
Dalam ayat 9-10 terdapat pikiran yang penting, yaitu bukan hanya rumah tangga yang berhenti dari pekerjaan, tetapi juga anak-anak, hamba-hamba, orang-orang asing, juga hewan, bukan hanya lelaki tetapi juga perempuan. Hal ini berarti bahwa hormat kepada Tuhan berhubungan erat dengan keprihatinan sosial, bahkan dengan keadilan (UL. 5:14-15, dimana lembumu, keledaimu), bahkan mereka juga diingatkan bahwa mereka dulu adalah budak di tanah Mesir.[11] Aturan ini khas dan baru dalam budaya dunia dan menjadi hari yang sangat penting bagi orang Yahudi yang terbuang dan tersebar di seluruh dunia.[12]
Asal-usul orang Israel sebagai budak, mengingatkan mereka bahwa kelangsungan hidupnya tergantung kepada Tuhan pemberi berkat, bukan pada perencanaan yang bagus dan jerih payah manusia.[13] Oleh karena itu, pada hari yang ditetapkan Tuhan sebagai hari yang kudus, dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun. Siapapun dilarang bekerja pada hari itu, termasuk orang Israel sendiri, anaknya laki-laki atau perempuan, hambanya, hewannya dan orang asing yang berada di tempat kediaman mereka (ay. 10). Ayat ini menunjukkan bahwa sabat tidak dianggap sebagai beban melainkan sebagai berkat yang harus diteruskan kepada orang lain. Rasa syukur atas pembebasan yang sedang dinikmati oleh anggota umat Israel,  harus membangkitkan rasa kasihan untuk para hamba yang mereka pekerjakan. Ini bisa juga disebut sebagai tuntutan untuk bertindak manusiawi dengan memberikan waktu istirahat bagi para hambanya setiap sabat.[14] Demikian juga dengan orang asing (ger) atau  orang pendatang sama seperti Musa di tanah Midian (Kel. 2:22).[15]
c.       Tuhan turut beristirahat pada hari sabbat
Kata Sabbat terkadang berhubungan dengan kata tujuh, yang kenyataannya 7 hari dari seminggu dalam kalender Ibrani. Ada dua alasan ketaatan untuk hari sabbat, yaitu: pertama, Allah beristirahat dari aktifitas penciptaannya di hari ketujuh. Kedua, ketaatan Sabbat sebagai sebuah  peringatan keluarnya dari Mesir.[16] Hari sabbat dimulai di Israel sebagai hari istirahat, bahkan bagi para pelayan dan budak. Ada dua prinsip dibalik perintah ini, yaitu pertama, harus ada ritme kehidupan, kerja, istirahat dan pastinya ibadah di tengah-tengah kehidupan yang berkelanjutan. Kedua, semua waktu adalah milik Tuhan. Dalam 7 hari ditetapkan satu hari khusus yang berfungsi mengingatkan pada kesucian setiap harinya.[17]
Tuhan sendiri beristirahat pada hari sabat (ay. 11). Dalam kitab Kejadian, dia berhenti dari pekerjaan pada hari ketujuh sesudah menciptakan langit dan bumi. Pekerjaan Tuhan atas karya dalam menciptakan telah selesai pada hari keenam. Lalu Allah menyempurnakannya pada hari ketujuh (Kej. 2:3).[18] Tuhan beristirahat, maka umat Israel harus beristirahat juga. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang membutuhkan perhentian dari pekerjaan. Jika dia berhenti pada kesempatan yang sesuai, berarti dia mengikuti contoh serta jalan Tuhan.[19]
2.    Sabat penting
a.       Peringatan keluarnya orang Israel dari Mesir
“Akulah Tuhan Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan” (Kel.20:2). Keluaran dari Mesir adalah suatu dasar bagi berdirinya umat Israel. Adanya kuasa perbuatan Allah lahir dari bangsa Israel yang dipilih oleh Allah sebagai uat pilihanNya, selain itu dasar berdirinya umat Israel juga didasari dengan adanya pemilihan para bapa leluhur, dimana Allah yang menyatakan diriNya di gunung Sinai oleh pemberian tanah Kanaan, dan menurut kitab-kitab perjanjian lama juga adanya pembimbingan bangsa Israel di gurun (Ul 32:10; Hos 9:10; Yer 31:2-3). Dalam penciptaan langit dan bumi secara tidak langsung mengarah kepada kelahiran umat Israel.[20]
Allah dikatakan sebagai “pembawa bangsa Israel keluar dari Mesir”atau membawa bangsa Israel keluar dari Mesir atau membawa naik. Peristiwa itu juga berkaitan dengan tindakan dari pihak umat Israel. Bangsa Israel berjalan keluar (Kel 15:14; Yos 2:10; 5:4; 6; 2 Raj 8:9; Mik 7:15) atau berjalan naik dari Mesir ke Kanaan (Kel 1:10; 13:18; Hak 11:13; 19:30; Bil 32:11; 1 Sam 15:2, 6), tidak hanyabangsa Israel saja yang digerakkan oleh Allah, namun para bapa leluhur juga digerakkan oleh Allah. Berkaitan dengan Keluaran juga dapat dijadikan sebagai puji-pujian, bahwa puji-pujian itu patut ditujukan kepada Allah karena Allah yang dimungkinkan, menyebabkan, menyanggupkan umat sehingga mereka dapat keluar dari tanah perbudakan atau tanah Mesir dan naik ke tanah yang sudah dijanjikan Allah kepada mereka. Allah lah yang mengajak, memimpin, menghantar, dan menyertai mereka selama berada di tanah perbudakan. Israel benar-benar berangkat sendiri, namun sebenarnya bahwa Allah lah yang memberangkatkan umatNya tersebut (Mas 78:52), hal itu berarti bahwa kata “membawa keluar” menekankan pada pembebasan dan kata “membawa naik” menekankan kepada Allah yang mengantarkan umatNya ke tanah yang dijanjikanNya. Dalam hal ini sudah jelas bahwa Allah yang membebaskan, memerdekakan umatNya.[21]
Von Rad mengatakan bahwa Allah yang menyatakan namaNya adalah Allah yang menyatakan janjinya terhadap umatNya. Melalui penyataan nama Allah, disana Allah sedang mengikat kembali perjanjianNya kepada umat agar antara Allah dan umat bisa saling mengenal. Nama Allah yang diperkenalkan adalah dirinya sendiri. Di dalam nama Allah terdapat kekuatan dan kedaulatan Allah, dengan demikian umat yang diperkenalkan harusnya tetap ikut dan masuk dalam janji yang dinyatakanNya. Allah menyatakan diri di gunung Sinai yang menjadi tempat Musa menerima hukum Allah menjadi sebuah kontroversi tersendiri bagi umat. Dalam paham mereka bahwa Allah yang menyatakan diri di atas gunung, berarti Allah tinggal di tempat tersebut. Ketika Allah menyatakan dirinya dia sedang memberikan kebebasan kepada umat agar terlepas dari penderitaan mereka sendiri. Melalui janji Allah umat sedang mengalami pembebasan, terutama pembebasan dari penyembahan berhala yang mereka lakukan dipadang gurun. Dekalog atau Taurat menjadi dasar perjanjian mereka dengan Allah sekaligus pembebasan mereka. Melalui Taurat mereka akan menuju pembebasan sebagai ikatan. Musa menjadi tokoh sentral ketika Allah menyatakan namaNya. Teologi dari penyataan akan nama Allah adalah pembebasan umat Israel dari padang gurun.[22]
b.      Sabat bagi Tuhan setelah melakukan penciptaan
Istirahat pada hari sabat berhubungan dengan istirahat pada hari ketujuh. Selama enam hari terjadi 8 tindakan penciptaan, dengan dua tindakan penciptaan pada hari ketiga dan keenam. Hari sabat dalam Keluaran 20:8 dihubungkan dengan awal mula dunia yang terikat pada penciptaan.[23] Hari perhentian kerja sangat penting bagi Israel dikukuhkan oleh perhentian kerja Allah sendiri dalam karya penciptaan (Kej. 2:1-3). Sabat merupakan hari kesukaan (Hos. 2:11) dan untuk pergi ke bait Allah (Yes. 1:13). Sabat menjadi tanda nyata dari identitas nasional Israel, sesudah pembuangan oleh Nehemia (Neh. 13:15-23).[24]
3.    Hubungannya dengan bidang lainnya
a.       Ekonomi
Tanah adalah milik Tuhan dan umat Israel harus memberikan persembahan sebagai bentuk pengakuan bahwa Tuhan berhak atas milik mereka seluruhnya. Baik itu berupa hasil pertama dari tanah (Kel. 23: 19) dan persembahan sepersepuluh dari hasil ladang (Ul. 14: 22-29; 26:12-15). Namun tanah juga butuh istirahat[25] (Im. 25:1-13). Tanah tidak dipaksa untuk berproduksi, humus tanah kembali lagi dan kemudian tanah siap ditanami lagi. Peristirahatan tanah ini merupakan praktek sabat untuk tanah. Umat Israel tidak perlu khawatir sebab Tuhan akan memberkati dengan cukup pada tahun keenam untuk hasil tiga tahun, yaitu tahun kedelapan masa menabur dan tahun kesembilan masa menuai (Im. 25:20-22). Dengan demikian, Israel diingatkan bahwa tanah diberikan bukan untuk memuaskan kerakusan manusia. Tanah juga mempunyai hak dan keberadaannya sendiri yang harus dihormati. Sehingga kegiatan ekonomi tidak diberhalakan.[26]
b.      Sosial-Kemanusiaan
Isi dari Kel. 20:10 merujuk kepada nilai sosial atau kemanusiaan. Sabat bukan hanya tentang hari ketujuh, tetapi juga tahun ketujuh dsb. Tahun ketujuh tanah tidak ditanami dan orang Israel tidak menuai dari tanah yang sedang diistirahatkan itu. Dalam perjanjian lama, kaum miskin merupakan orang yang tidak punya tanah, seperti hamba dan orang asing. Tetapi mereka boleh menikmati hasil dari tanah pada tahun ketujuh itu (Ul. 15:1-18; 22:1-4) dan segala yang tumbuh sendiri di tanah majikan pada tahun ketujuh harus dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja menjadi hak orang upahan dan orang asing yang tinggal padanya (Kel. 23:11, Im. 25:6). Dalam hal ini pemilik tanah tidak boleh serakah. Hal ini mereka lakukan untuk mengingat bahwa mereka juga dulu adalah budak di negeri orang asing. Dalam perjanjian lama janjin perhentian dilambangkan dengan tanah perjanjian.[27]
Gambaran Israel dan binatang menyambut pembagian dari sumber tanah yang tidak dikerjakan (Im. 25:6-7) sebagai manifestasi kesuburan tanah. Semua ciptaan beristirahat dan mampu menerima dari penciptanya tanpa kerja keras. Tahun sabat disebut sebagai innebhey nezirekha yang biasanya diterjemahkan tumbuh-tumbuhan dari penuaianmu. Pengukuhan kekudusan tanah ditandai oleh tumbuhan dari tuaian sebagai metafora untuk status tanah yang kudus. Hubungan visual antara gambaran dari yang tidak dipelihara dan mengadakan pertumbuhan tidak teratur atas permukaan tanah itu.[28]  


[1] Lih. J. Durham, WBC Vol. 3: Exodus, WACO, Texas 1987: hlm. 288.
[2] Lih. I. J. Cairns, Tafsir Alkitab: Kitab Ulangan pasal 1-11, BPK-GM, Jakarta 1986: hlm. 117. Pemakaian buku ini dalam paper ini dikarenakan kitab Ulangan sering disebut sebagai penjelasan atas kitab Keluaran atau kitab ulangan sebagai edisi lanjutan dari kitab keluaran (pernyataann didukung oleh H. Sinaga dalam presentasi kuliah umum di STT HKBP Pematangsiantar, hlm. 54).
[3] LihCairns, Kitab Ulangan, hlm. 144.
[4] Lih. S. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, BPK-GM, Jakarta 1986: hlm. 113.
[5] Lih. R. M. Paterson, Tafsiran Alkitab: Kitab Keluaran, BPK-GM, Jakarta 2006: hlm. 222-223.
[6] Lih. Paterson, Kitab Keluaran, hlm. 268.
[7] Lih. J. Durham, WBC Vol. 3: Exodus, WACO, Texas1987: hlm. 288-290.
[8] Lih. W. T.Miller, The Book Of Exodus: Question by Question, Paulist Press, New Jersey 2009: hlm. 130. 
[9]Lih. Paterson, Kitab Keluaran, hlm. 263.
[10] Lih. Cairns, Kitab Ulangan, hlm. 115.
[11] Lih. Paterson, Kitab Keluaran, hlm. 268.
[12] Lih. Christoph Barth, dkk,Teologi Perjanjian Lama 2, BPK-GM, Jakarta 2010: hlm. 214.
[13] Lih. Yonky Karman, Bunga Rampai: Teologi Perjanjian Lama, BPK-GM, Jakarta 2004: hlm. 89.
[14] Lih. Cairns, Kitab Ulangan,hlm. 115.
[15] Lih. Paterson, Kitab Keluaran, hlm. 264.
[16] Lih. C. Barth-M. C. Barth, Teologi Perjanjian Lama 1, BPK-GM, Jakarta 2008: hlm. 226.
[17] Lih. M. Dunnam, Mastering The Old Testament: Exodus (ed: Lloyd J. Ogilvie), Word Publishing, London 1987: hlm. 259-260.
[18] Pendapat ini juga didukung oleh T. H. Vriezen dalam bukunya “Agama Israel Kuno (BPK-GM, Jakarta 1981)” hlm. 267. yang mengatakan bahwa kodeks imamat (selama periode pembuangan) menetapkan sabat sebagai puncak proses penciptaan (Kej. 1:2-4a).
[19] Lih. Paterson, Kitab Keluaran, hlm. 269.
[20] Lih. Barth, Perjanjian Lama, hlm. 122-123.
[21] Lih. Barth, Perjanjian Lama, hlm. 124-127.
[22] Lih. Gerhard Von Rad, Old Testament Theology, Harper & Row Publishers, New York 1962: hlm. 165-166.
[23] Lih. P. A. Viviano, “Kejadian” dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (ed: D. Bergant & R. J. Karris), Kanisius, Yogyakarta 2002: hlm. 36.
[24] Lih.W. R. F. Browning, Kamus Alkitab: Panduan dasar ke dalam kitab-kitab, tema, tempat, tokoh dan istilah Alkitab, BPK-GM, Jakarta 2007: hlm. 393.
[25]Eka Darmaputera, dalam bukunya “Etika Sederhana untuk Semua: Bisnis, Ekonomi, Dan Penatalayanan (BPK-GM, Jakarta 1990: hlm. 57) ” mengatakan bahwa Sabat bukan hanya hari ketujuh tetapi juga tahun ketujuh yang disebut tahun sabat. Pada tahun ketujuh, tanah yang tidak dikerjakan menjadi bagian untuk orang miskin atau bahkan untuk binatang yang ada disitu (Kel. 23:10-11).
[26] Lih. Karman, Bunga Rampai: Teologi Perjanjian Lama, hlm. 89.
[27] Lih. Karman, Bunga Rampai: Teologi Perjanjian Lama, hlm. 91-96.
[28] Lih. Jonatan Burnside, God, Justice and Society: Aspects of Law and Legality in the Bible, Oxford University Press, New York 2011: hlm. 200.

Tidak ada komentar: